RONALDO

Siapa yang pernah membayangkan pemain hebat seperti Ronaldo akan ditolak oleh banyak klub ketika dia memilih hengkang dari Manchester United. Ronaldo merupakan pemain yang mendapuk dirinya sebagai pesepak bola terbaik di dunia ketika Rio Ferdinand menjawab, “Maradona,” dan Anderson dari Brasil kelabakan ketika hendak menjawab itu. Tanpa ragu, Ronaldo menjawab singkat, “Saya.”

Ronaldo bukan Francesco Totti yang menolak sopan ketika Maradona hendak memasang ban kapten di lengannya. Ronaldo merupakan pemain yang paling terobsesi dengan diri dan sepak bola. Dapat dikatakan dia merupakan pemain sepak bola era sekarang yang paling prima setelah Ibrahimovic karena masih mampu bermain di level tertinggi. Kemampuannya itu ditopang oleh disiplin yang tinggi untuk terus menjaga kebugaran. Sampai-sampai Patrick Evra, rekan satu timnya di MU, kapok untuk mendatangi kediaman Ronaldo. Dalam kunjungan itu, Evra mendapat jamuan yang tidak lezat serta melihat Ronaldo yang tidak pernah berhenti bergerak mengolah fisik.

Namun, melihat penolakan demi penolakan terhadapnya menimbulkan pertanyaan penting; mengapa hal itu dapat terjadi. Mengapa pemain yang sudah memenangkan segalanya – kecuali tropi Piala Dunia – menjadi pesakitan begini rupa. Dia kini diolok-olok karena klub yag dirumorkan dekat dengannya secara langsung menolak, mulai dari Bayern Munchen, Chelsea, sampai Atletico Madrid.

Jawaban standar yang dapat diberikan adalah tentang gaji dan kontribusi. Apakah Ronaldo gaji kini sebanding dengan kontibusinya, mengingat dia telah melewati masa keemasan sebagai pemain. Pertanyaan demikian wajar diajukan mengingat hampir semua klub di dunia – kecuali klub liga Wakanda – berada dalam situasi keuangan yang tidak begitu prima. Wajar adanya setiap klub mulai agak lebih hati-hati menghamburkan dananya.

Akan tetapi, hal yang jarang disentuh oleh analisis lain adalah tentang ketidaknyamanan yang dibawa oleh Ronaldo ke dalam tim. Ronaldo kini tentu berbeda ketika dia bermain di MU dan Real Madrid. Saat itu, aura kebintangannya diimbangi oleh pemain-pemain besar lainnya: Roy Keane, Raul Gonzales, Ramos, atau Giggs. Ditambah, Ronaldo diawasi oleh mata garang pelatih seperti Sir Alex dan Zinedine Zidane. Situasi tersebut membuat aura kebintangan Ronaldo tidak begitu menyilaukan karena berada dalam tim yang seimbang.

Bandingkan situasinya di MU sekarang. Ronaldo diibaratkan – meminjam frasa menarik dari seorang teman ketika melihat Prabowo berfoto dalam jajaran kabinet – seperti siswa yang tinggal kelas. Di MU kini, Ronaldo seperti raksasa di hadapan para bocah ingusan yang mungkin dahulunya cuma bisa berhayal untuk dapat bermain satu lapangan dengannya. Suasana psikologi ini yang dirasakan oleh pemain-pemain MU di musim ini melalui pernyataan Bruno Fernandes bahwa MU memiliki tiga striker yang mumpuni di depan gawang lawan.

Keadaan ini menjelaskan hal lain bahwa tanpa kita sadari dominasi Ronaldo dan Messi selama lebih dari satu dekade –sehingga sepak bola mengalami degradasi sedemikian rupa — kini mulai menuai hasilnya, yaitu ketika pemain sepak bola yang lebih muda mulai jengah dengan “aura bintang.” Mereka sepertinya sadar kalau mempertahankan aura bintang sama saja akan membunuh karir mereka secara perlahan.

Selanjutnya, apa yang kini sedang dialami oleh Ronaldo membuat kita harus angkat salut kepada Eric Cantona, King of Old Trafford, yang pamit dari sepak bola di usia sangat muda: 28 tahun. Dia meninggalkan sepak bola dengan memancang jejak yang tidak pernah lekang di ingatan publik sepak bola Inggris. Hal yang kini tidak dirasakan oleh Ronaldo dari liga yang telah membesarkan dirinya.

Baca Juga

“Pulitek” Orang Aceh: Politik Keterusterangan

Pengalaman-pengalaman serupa tentulah dapat kita temukan di berbagai kesempatan, bahwa dalam relasi sosialnya, terutama dalam dunia politik, keterusterangan merupakan tipikal dari orang Aceh.

Kisah Persahabatan di Balik Meja Kerja

Waktu terus berjalan, tetapi persahabatan dan kenangan di balik meja kerja itu tetap hidup dalam hati mereka. Meskipun jalan hidup membawa mereka ke berbagai arah, ikatan yang telah terbentuk selama bertahun-tahun tidak akan pernah hilang.

BUKAN DI TANGAN MPR

Malah, sekarang, kita lebih mengkhawatirkan kapasitas partai politik, yang lebih mengejar hasil instan elektoral dengan mengajukan pelawak sebagai calon wakil walikota.

MEKKAH YANG DEKAT

Mekkah adalah tanah impian. Semua muslim mendambakan menginjakkan kaki di sana. Dari Mekkah, tempat di mana sakralitas ibadah haji dilakukan, cerita mengenai hubungan muslim dengan Tuhan dan masyarakatnya bermula.

Menyoal Frasa Wali Keramat dalam Cerpen Ada Sepeda di Depan Mimbar

Namun, pada poin kedua, di sini, imajinasi Khairil Miswar sama sekali bertolakbelakang dengan imajinasi saya. Gambaran imajinatif sosok Teungku Malem yang dianggap wali keramat, namun dia menghasut Tauke Madi untuk tidak lagi memperkerjakan orang yang tidak salat, bukan main anehnya